Ramadan tempo doeloe (13): Malala

Ngabuburit atau berjalan-jalan disore hari untuk menunggu waktu berbuka menjadi sangat populer di bulan Ramadan.  Kamipun melakukan hal itu untuk membunuh waktu, namun kami tidak menggunakan istilah dari bahasa Sunda itu.  Dalam bahasa Kerinci istilah itu bisa berkonotasi negatif dan kurang ajar.

Barangkali kata yang semakna dalam bahasa kami adalah malala, yang artinya berjalan-jalan atau keluyuran tanpa tujuan yang jelas, sekedar untuk bersenang-senang atau pun membunuh waktu.  Malala sama sekali tidak ada kaitannya dengan malalu (kabacarito: Ramadan tempo doeloe (9): Malalu).

Sebenarnya orang berpuasa disunnahkan untuk menghabiskan waktu selama bulan Ramadan dengan beribadah lebih banyak.  Tidak hanya memperbanyak shalat, dapat pula dengan tilawah Al Quran, membaca kitab-kitab ulama atau buku-buku agama atau iktiqaf.  Bahkan tidur saja bernilai ibadah.  Tapi sayang kami lebih cenderung mengisi Ramadan dengan sisi festivalisasinya saja, yang bukan tak mungkin justru merusak kualitas puasa.

Sebab itulah pasa mambo demikian ramai dan sesak oleh pengunjung golongan ketiga yang hanya ingin berjalan-jalan, bergabung dengan keramaian, namun tidak membeli.  Meluncurlah ke kabacarito: Ramadan tempo doeloe (10): Pasa Mambo untuk mengulang kaji tentang golongan-golongan pengunjung pasa mambo.  Bosan bersempit-sempit di lorong-lorong pasa mambo banyak pula yang sekedar berjalan-jalan mengelilingi Lapangan Merdeka yang legendaris itu.  Lapangan itu menjadi tuan rumah berbagai pertandingan sepakbola penting, tempat berbagai upacara tingkat kabupaten dan propinsi, tempat berbagai pameran, hingga menjadi host konser A. Rafiq.  Dan tentu saja, tempat dilaksanakannya shalat Idul Fitri dan Idul Adha.  

Yang punya honda (segala jenis sepeda motor kami sebut honda, apapun mereknya), tentu dapat malala lebih jauh.  Aku biasa dijemput seorang sahabat dengan Honda Astrea Grand barunya hanya untuk raun-raun (keliling) tidak jelas.  Bagi sahabat itu malala tak tentu lebih baik dari pada nongkrong di toko buku Mira, yang lebih tepat disebut sebagai tempat peminjaman novel dan komik, membaca serial Kho Ping Ho.  Takut tak mampu menahan godaan untuk meminjam koleksi rahasia stensilan mesum, maka batallah puasa.

Kadang kami hanya berputar-putar seperti orang linglung dikota Sungai Penuh yang tak seberapa besar itu.  Kadang mampir dirumah kawan, kalau mereka ada dirumah.  Hari berikutnya kami malala ke bukit Sentiong, lalu nongkrong bersama pemotor lainnya melepas pandang kebawah menikmati Sungai Penuh, hamparan sawah menghijau dan desa-desa yang terpencar di kaki-kaki bukit yang mengurung lembah Kerinci.  Bila cuaca cerah, sesudut Danau Kerinci terlihat di kejauhan dan Gunung Kerinci tegak gagah menjaga disudut lain.  Indah dan permai.  Nikmat-Nya yang mana lagi yang kau dustakan!

Dihari lain, kami malala menyusuri dusun-dusun sekitar Sungai Penuh.  Jalur yang biasa kami lalui adalah Rawang, Koto Lanang, Koto Payang, Kemantan, Koto Majidin, Tebat Ijuk, Belui, Sekungkung, Semumu, Koto Lolo dan kembali masuk kota Sungai Penuh.

Seminggu sekali aku membantu Tek Da mencuci honda yang selalu dibawanya mengajar ke sekolah yang cukup jauh dari rumah.  Honda Tek Da adalah Suzuki RC100 bebek (Ingat, semua sepeda motor kami sebut honda).  Di bulan puasa, mencuci honda menjadi kegiatan istimewa.  Aku pergi dengan seorang kawan ke permandian air hangat di Sungai Medang, sepuluh kilometer jauhnya.  Honda dan manusianya menikmati kesegaran air hangat alam sambil membunuh waktu menanti berbuka tiba.


Comments

Unknown said…
Hehe jadi mengingatkan akan cerita yang terjadi di rawang.termasuk saat jalan kaki pulang acara ultah seorang teman.. :)

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)